Mar 24, 2018

Sarasvati, Nama yang Bapak Berikan dan Kisah di Belakangnya

Nama saya Dhitta Puti Sarasvati. Ketika mendengar nama belakang saya, beberapa orang bertanya-tanya, apakah saya berasal dari Bali? Bagi sebagian orang Bali, khususnya yang beragama Hindu, Sarasvati dipercaya Dewi pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Bapak selalu mengatakan, dengan menamakan “Sarasvati”, diharapkan saya tumbuh menjadi seseorang yang cinta ilmu pengetahuan. Ketika saya memilih jalan hidup menjadi pendidik, bukan profesi lain, Bapak sering bercanda, “Ini pasti gara-gara dulu Bapak kasih nama Sarasvati.” Bagaimana Bapak bisa memiliki ide untuk memberikan saya nama Sarasvati? Ini ada ceritanya. Setelah Bapak mengambil studi strata 2 (S2) di bidang Ekonomi di Boston University, Bapak mendapatkan tawaran untuk melanjutkan S3 (dengan beasiswa) di tempat yang sama. Meskipun tawaran itu sangat menarik, Bapak menolak tawaran tersebut dan memilih kembali ke Indonesia. Kepada saya, Bapak pernah berkata, “Ekonomi tidak bisa dipahami hanya dengan mempelajari teori dan pintar di sekolah saja. Saat itu Bapak belum begitu mengerti ekonomi Indonesia. Kalau Bapak langsung lanjut S3, Bapak akan pintar sekolahan saja. Bapak putuskan untuk mempelajari ekonomi melalui pengalaman riil dengan menjadi peneliti terlebih dulu selama dua sampai tiga tahun. Setelahnya, baru melanjutkan studi lagi. Nanti akan kembali lagi.” Sekembali ke Indonesia, Bapak menikah dengan almarhumah Ibu, yang sedang menyelesaikan tugas akhir di Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak lama kemudian, saya pun mulai tumbuh di perut Ibu. Saat itulah, tahun 1982, Bapak mulai bekerja sebagai Senior Researcher CPIS, Tim Harvard, yang merupakan lembaga riset dan penasihat Departemen Keuangan Republik Indonesia. Salah satu tugasnya adalah melakukan reformasi Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Desa. Waktu itu ada 3.600 BRI Unit Desa yang sebelumnya memberikan Kredit Bimas untuk petani. Karena manfaatnya dianggap telah selesai, Kredit Bimas kemudian dihapuskan. Pemerintah pun berencana untuk menutup 3.600 BRI Unit Desa ini. Bersama tim CPIS Harvard, Bapak menyarankan kepada pemerintah agar BRI Unit Desa tidak ditutup tetapi direformasi. Bapak menjadi koordinator lapangan untuk membenahi 36 BRI Unit Desa di seluruh Indonesia. Beberapa tahun kemudian, reformasi Unit Desa BRI ini (Program Kupedes dan Simpedes) menjadi salah satu program bank pedesaan paling baik di seluruh dunia. Pada kemudian hari untuk mendukung program ini, Tim Harvard mempekerjakan Stanley Ann Dunham, seorang Antropolog, untuk menjadi penasihat sosiologi pedesaan. Antropolog ini merupakan ibu dari Presiden Obama. Proyek ini merupakan salah satu alasan mengapa Obama sempat tinggal dan bersekolah di Indonesia. Beberapa hal dikerjakan untuk memperbaiki BRI Unit Desa. Antara lain dengan membenahi sistem akunting sehingga Unit Desa menjadi unit yang mandiri dan simpanan pedesaan, serta memperbaiki sistem pinjam-meminjam sehingga bukan berdasarkan pada jaminan semata. Namun, lebih berdasarkan sejarah pinjaman (credit history). Misalnya, seseorang diberikan pinjaman Rp500.000. Apabila si peminjam itu mengembalikan pinjaman dengan tepat waktu, di kemudian hari dia berhak memperoleh pinjaman yang lebih besar. Orang lain, yang mungkin punya jaminan yang lebih besar (misalnya, punya tanah dan sebagainya), tetapi tidak punya sejarah mengembalikan pinjaman dengan baik, akan kesulitan memperoleh pinjaman lagi. Sistem pinjaman ini merupakan bentuk dukungan kepada petani untuk mengembangkan usahanya. Inilah cikal-bakal micro-credit. Seorang profesor dari Bangladesh, Prof. Mohammad Yunus, sempat datang ke Indonesia untuk mempelajari sistem BRI Unit Desa. Dia mengaplikasikan sistem BRI Unit Desa dengan membuat hal yang serupa di Bangladesh, untuk nasabah yang jauh lebih miskin, bahkan tidak memiliki tanah. Di Bangladesh, sistem ini berkembang dan dinamakan Grameen Bank. Muhammad Yunus yang begitu konsisten mengembangkan Grameen Bank, akhirnya memperoleh Hadiah Nobel karena upayanya ini. Bali adalah salah satu daerah yang Bapak datangi langsung ketika membenahi BRI Unit Desa waktu itu. Di Bali, Bapak makin tertarik dengan konsep dewi ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan, Sarasvati. Begitulah, nama itulah yang Bapak berikan ketika saya lahir ke dunia.

Dec 14, 2017

[REFLEKSI] Rencana Mengubah Cara Memberikan Umpan Balik


Sebagai seorang pengajar, saya telah banyak melakukan perubahan. Ketika pertama kali mengajar, di tahun 2002, saya banyak mengandalkan papan tulis dan kapur (iya, waktu itu masih menggunakan kapur).

Saya meringkas materi pelajaran, mencatatnya di papan tulis, dan siswa-siswa saya (yang waktu itu seusia SMP) mencatat. Saya banyak bicara, berceramah tentang apa yang sudah ditulis di buku. Mungkin, meniru beberapa pengajar yang pernah saya lihat sewaktu masih bersekolah.

Kini, cara mengajar saya sudah berubah. Ceramah, hampir tidak pernah saya lakukan lagi. Saya lebih banyak mengajar dengan mengajukan pertanyaan dan mengajak (maha)siswa mengerjakan berbagai aktivitas yang membuat mereka harus berpikir baik sendiri, berpasangan, ataupun dalam kelompok.

Namun, belakangan saya baru menyadari bahwa dalam memberikan umpan balik kepada (maha)siswa, saya masih sangat payah. Belum banyak perubahan dari pertama kali mengajar (yang sudah lebih dari 15 tahun yang lalu).

Ketika memberikan umpan balik, khususnya secara tertulis, kadang saya terlalu bias. Kadang lebih banyak menuliskan kekurangan (maha)siswa daripada kelebihannya.

Ketika hasil assessment (maha)siswa kurang memuaskan,  saya menulis umpan balik dengan nafsu  yang menggebu-gebu. Tinta merah menjadi teman saya dalam mencoret-coret pekerjaan (maha)siswa. Kadang tulisannya gede-gede saking nafsunya. Mungkin, ketika membacanya, (maha)siswa malah akan merasa jatuh dan bukan bersemangat untuk memperbaiki diri. Tentu bukan itu yang saya inginkan.

Saya pun iseng-iseng membaca beberapa artikel tentang memberikan umpan balik kepada (maha)siswa. Ada dua saran yang ingin saya coba di kemudian hari, yakni:

  1. Saya akan mencoba menuliskan umpan balik dengan dua jenis tinta, seperti biru dan hijau. Tinta biru,  untuk umpan balik yang sifatnya  positif, misalnya megomentari apa yang sudah baik dari hasil pekerjaan (maha)siswa. Tinta hijau digunakan untuk umpan balik yang sifatnya mengkritik. Menulis dengan dua tinta, memungkinkan saya  melihat (dengan mudah) bagaimana saya menuliskan umpan balik. Apakah lebih banyak mengomentari kelebihan atau kekurangan hasil kerja (maha)siswa? Kalau terlalu banyak tinta hijau misalnya, saya perlu memperbaiki cara saya menulis umpan balik. Gagasan ini saya dapatkan dari artikel 9 Ways to Give More Effective (Writing) Feedback). Tampak sederhana dan bisa dicoba. Yang jelas, saya akan berusaha menghindari menulis umpan balik dengan tinta merah. Tampaknya tinta merah membuat saya terlalu menggebu-gebu ketika menuliskan umpan balik. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya ingin menuliskan umpan balik dengan perasaan lebih tenang. 
  2. Terkait dengan rencana di atas, saya  juga mau lebih baik hati ketika memberikan umpan balik. I want to be more constructive, kind, and specific seperti saran yang ada di artikel Timely Feedback: Now or Never. Di artikel tersebut, guru diingatkan mengenai rasanya dievaluasi atasan (atau mungkin pengawas) dengan terus menerus dikritik mengenai kekurangannya. Tentu tidak enak, bukan? Itulah mengapa lebih baik mulai dengan menyampaikan apa yang sudah baik, dan kemudian menyampaikan mengenai apa yang perlu diperbaiki. Umpan balik juga harus spesifik, sehingga (maha)siswa tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. 
Saya tidak akan muluk-muluk. Sementara saya akan mencoba dua hal di atas. Itu saja dulu.  Semoga dua langkah kecil ini bisa membawa saya melangkah lebih jauh dalam meningkatkan kualitas saya dalam memberikan umpan balik kepada (maha)siswa. 

Nov 22, 2017

Guru Super, Excellent, dan Good menurut Johnson



Pak Budi Poniam, rekan saya di kampus memperkenalkan saya pada buku "Teaching Outside the Box: How to Grab Your Students By Their Brains" karya Louanne Johnson (2015). Saya baru selesai membaca bab kedua, berjudul "Are you Teaching Material?".

Di bab tersebut guru dikategorikan menjadi tiga, yakni "super", "excellent", dan "good".  Sebenarnya ada kategori lain, yaitu "mediocre"  dan "terrible teachers". Mediocre teachers tampaknya menggambarkan guru yang biasa-biasa saja. Di sekolah, mengajar seadanya (persiapannya sangat minim) lalu pulang. Sedangkan terible teachers tampaknya mengacu pada guru yang mengajar dengan sangat buruk, misalnya, yang tidak peduli dengan siswa sama sekali.

Kedua kategori terakhir tidak dibahas di dalam buku ini dengan alasan bahwa guru yang mediocre dan terrible tidak bisa ditolerir. Kata Johnson:
"Teachers come in three basic flavors - super, excellent, and good. (Of course, there are the mediocre teachers and, sadly, terrible teachers. But teaching poorly is not acceptable or excusable, so such practices are not included in this discussion)." ( Johnson, h. 7)
Saya akan mencoba mengelaborasi apa yang dimaksud dengan super, excellent, dan good teachers.

Super Teachers
Super teachers adalah orang yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk mendidik dan mengajar. Setiap waktu di dalam hidupnya didedikasikan untuk profesinya. Tidak semua guru bisa menjadi super teachersHanya mereka yang punya energi (fisik, emosi, dan mental) yang tinggi yang bisa melakukan sangat ini.

Mereka bukan hanya tepat waktu, tapi senantiasa datang lebih awal dan pulang lebih sore. Kegiatan belajar mengajar dirancang sesempurna mungkin. Setiap waktu kosong digunakan untuk belajar hal baru (yang bisa digunakan untuk kepentingan mendididik). Mereka membimbing berbagai kegiatan  kesiswaan, memberikan pelajaran tambahan, bahkan ketika harus mengorbankan waktu pribadi. Ketika harus mengorbankan kepentingan pribadi, mereka pun melakukannya dengan senang hati.

Tidak semua guru memiliki energi seperti ini. Juga, tidak semua guru memiliki sistem pendukung (keluarga, lingkungan sekitar) yang memungkinkannya fokus 100% pada kegiatan mendidik. Saya terbayang, bahwa seorang supper teacher  hidupnya berfokus pada sekolah dan kegiatan mendidik. Nyaris 100%. Tentu saja, saya salut pada guru semacam ini, namun juga bisa memahami bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi guru semacam ini.

Excellent Teachers
Excellent Teachers  adalah guru yang mencintai pekerjaan mereka. Kegiatan mendidik tetap jadi prioritas yang cukup utama. Mereka menghabiskan waktu yang cukup untuk merancang kegiatan  belajar-mengajar yang menarik. Ketika memberikan assessment kepada siswa, mereka benar-benar memperhatikan progres siswa. Sesekali mereka berkorban, misalnya untuk mendampingi siswa untuk kegiatan ekskursi. Apabila diperlukan, mereka akan menyediakan waktu untuk berdialog dengan siswa-siswa yang membutuhkan. Namun, guru yang seperti ini, tidak akan terlalu ngoyo, apabila memang ada keperluan pribadi yang perlu didahulukan.

Good Teachers
Good teachers adalah guru yang akan memenuhi  tangung jawabnya dengan baik. Mereka tetap merancang kegiatan dengan baik, memenuhi tanggung jawabnya ketika mengajar, memastikan bahwa siswa berprores dalam belajar, dan mendampingi siswa sesuai tanggung jawabnya. Namun, mereka punya batasan yang sangat jelas antara kehidupan profesional dan personal. Setelah jam sekolah usai, mereka akan sibuk dengan hobi mereka, keluarga dan teman-teman mereka, mungkin sedikit lupa dengan apa yang terjadi di sekolah.

Menurut Johnson, kita bisa memilih menjadi guru yang super, excellent, atau good. Tidak ada pilihan yang lebih baik. Pilihan ini sangat tergantung dari kekuatan personal, relasi dengan orang yang disayangi, target profesional, dan prioritas pribadi. Menurut Johnson:
"Sometimes teacher confess that they feel a bit guilty for not having the energy to be a super teacher. I tell them - and I am absolutely sincere - that there is no shame in being an everyday good teacher. Not everybody can be a rock star and needs to be..... I may be biased, but I believe that an everyday good teacher is still a hero."  (Johnson, h. 14)

Tentu saja, pengkategorian guru menurut Johnson tidak saklek  dan kita sendiri bisa membuat kategori lainnya apabila diperlukan. Namun, dengan membaca kategori guru di atas, kita bisa berefleksi untuk melihat kita ada di posisi yang mana dan ingin berada di posisi mana. Baik dengan menjadi guru yang super, excellent , ataupun good   kita tetap bisa berkontribusi untuk pendidikan dan lingkungan.  Asalkan bukan guru yang mediocre atau terible kali yah.. :)


Oct 30, 2017

Refleksi ESN : "Examining Digital Literacies from the Ground Up: Lessons for Language Teaching" oleh Dr. Ibrar Bhatt.

Education Sharing Network (ESN) adalah sebuah kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan, Universitas Sampoerna. Diadakan dua kali per semester. Tema kegiatan ESN hari ini adalah "Examining Digital Literacies from the Ground Up: Lessons for Language Teaching". Dr. Ibrar Bhatt dari Queen's University, Belfast, menjadi pembicara untuk tema ini.

Meskipun tidak punya dasar mengenai pengajaran bahasa (language teaching),  ESN kali ini tetap saya anggap sangat menarik.

Dr. Bhatt memulai presentasi dengan menceritakan latar belakangnya. Kini, dia memang seorang akademisi yang bekerja di universitas, tetapi sebelumnya ia adalah guru bahasa. Pengalamannya mengajar, membuatnya berinteraksi dengan siswa-siswa dari berbagai latar belakang. Beberapa tidak piawai dalam menulis dan membaca, khususnya dalam konteks akademis. Beberapa juga tidak pandai, bahkan tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka adalah siswa-siswa yang kesulitan di kelas dan mereka sering kali dilabeli illiterate, alias tidak cakap menulis dan membaca.

Namun, dari hasil observasi Dr. Bhatt, dia menemukan bahwa siswa-siswinya sangat aktif di internet. Mereka bisa melakukan jual beli melalui E-Bay, bisa mengisi formulir aplikasi visa (yang rumit), aktif mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan dalam diskusi online, mencari dan mencoba memahami berbagai informasi untuk belajar hal baru di dunia maya.  Menurutnya, beberapa hal yang dilakukan siswanya  termasuk dalam complex literacy activities.

Muncullah pertanyaan dalam kepala Dr. Bhatt, "Apakah siswa-siswanya benar-benar illiterate?"

Dr. Bhatt memahami literasi sebagai bentuk praktik sosial (social practices). Seseorang bisa sangat literat di satu konteks tetapi tidak literat di konteks lain. Sebagai analoginya, Dr. Bhatt mencontohkan bahwa dia sudah memperoleh PhD di bidang bahasa (Inggris). Tentu saja, asumsinya adalah bahwa keterampilannya dalam membaca seharusnya baik. Ketika pendingin ruangan di rumahnya rusak, dia mau mencoba memperbaikinya sendiri. Referensinya adalah buku manual. Dr. Bhatt membaca buku manual tersebut selama setengah jam tapi tetap saja tidak bisa memperbaiki mesin pendingin ruangan itu. Lalu, dia memanggil seorang teknisi. Teknisi ini membaca buku manual sebentar saja, lalu bisa membetulkan mesin pendingin dalam waktu beberapa menit.

Baik Dr. Bhatt maupun teknisi sama-sama bisa membaca. Namun ada konteks di mana Dr. Bhatt lebih literat daripada teknisi tersebut, yakni dalam konteks akademik (sesuai bidangnya). Di sisi lain, ada konteks di mana teknisi tersebut lebih literat daripada Dr. Bhatt, yakni yang terkait profesinya, segala hal yang berhubungan dengan permesinan. Setiap komunitas punya “bahasanya sendiri”, berinteraksi dengan jenis teknologi tersendiri. Istilah Dr. Bhatt, "I have access to diferent kinds of literacies, he has access to different kinds of literacies." 

Cerita Dr. Bhatt ini mengingatkan saya pada cerita Ong Hok Ham dalam  buku "Guru dan Secangkir Kopi" karya Mas Andi Achdian. Saya lupa detailnya. Akan tetapi, ada bagian di dalam buku itu yang menceritakan Ong Hok Ham menganggap bahwa rakyat yang dianggap orang biasa (bukan dari kalangan yang dianggap terpelajar) punya kecerdasannya sendiri. Mereka punya bahasa dan logika tersendiri untuk memahami dunia.

Nah, menurut Dr. Bhatt, sebagai seorang “guru”, kita perlu melakukan penelitian agar bisa lebih memahami siswa-siswa kita. Guru bahasa misalnya, juga perlu mengamati secara lebih mendalam literasi siswa. Misalnya, dalam konteks digital. Sebelumnya, Dr. Bhatt juga mengingatkan bahwa konsep mengenai digital literacyakan terus berubah dari zaman ke zaman, sesuai dengan perkembangan digital. Misalnya, di zaman dulu, anak yang punya akses terhadap game (Nintendo, Game Boy, dll) dianggap generasi digital, lalu kemudian mereka yang punya akses terhadap internet, yang dianggap generasi digital. Di masa depan, yang disebut generasi digital adalah mereka yang terakses dengan  the internet of things, di berbagai hal di sekitar, kursi, meja, dan lain-lain terakses ke internet. Ketika memandang literacy as a social practice, kita jadi bisa paham bahwa tidak ada definisi yang saklek mengenai literasi tapi literasi berkembang di dalam praktik. Praktik ini dikembangkan oleh manusia.

Sebagai guru, Dr. Bhatt menyarankan kita untuk mempelajari digital literacy dari akar rumput, bukan berdasarkan apa yang didiktekan oleh pembuat teknologi kepada kita. Ada berbagai metode untuk melakukan ini. Misalnya, dengan mempelajari sejarah digital siswa-siswa kita. Mewawancarai mereka, misalnya untuk mengetahui kapan mereka pertama kalinya menggunakan mouse, membuat email, membuat profil di media sosial, dan belajar berbagai skill yang mereka miliki sekarang. Siswa-siswi kita bisa saja punya akses yang sama terhadap teknologi, misalnya sama-sama memiliki akses ke telepon pintar, tetapi hal tersebut tidak berarti mereka memiliki pengalaman yang sama dalam menggunakan literasi digital.

Salah satu hal yang menarik adalah ketika Dr. Bhatt mengatakan dia lebih suka fokus mempelajari jenis literasi siswa, bukan sekadar level literasi siswa. Dr. Bhatt mengatakan, sebagai seorang guru, tentu saja kita diharapkan untuk mengukur level literasi siswa. Hal ini bisa dipahami. Namun, ketika kita bisa mencoba memahami jenis literasi siswa, kita memperoleh informasi yang bisa memperkaya praktik kita dalam merancang kegiatan belajar-mengajar. Kita bisa mempelajari sejarah dan kebiasaan siswa kita dalam menggunakan media digital, jaringan siswa kita, dan tempat-tempat yang terkoneksi dengan siswa kita, jenis-jenis aplikasi, platform, dan teknologi yang digunakan siswa kita, dan lain-lain.

Pesan utama Dr. Bhatt, agar kita, para guru, berusaha mengumpulkan data dan melakukan riset terkait praktik literasi siswa kita, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap data tersebut, dan gunakan apa yang dipelajari untuk memperbaiki praktik belajar dan mengajar.

Oct 6, 2017

Mengajarkan Isu Kontroversial Di Dalam Kelas? Boleh tapi ....

Belakangan ini, ada banyak pembahasan mengenai kejadian 1965. Isu mengenai kejadian 1965 merupakan salah satu isu yang kontroversial.

Stradling (1985) mendefinisikan isu yang kontroversial sebagai berikut : 
"those issues on which our society is clearly divided and significant groups within society advocate conflicting explanations or solutions based on alternative values" 
yang berarti :  
 "Isu-isu yang ketika dibahas di masyarakat jelas menimbulkan perbedaan pendapat yang sangat jauh. Kelompok yang berbeda di masyarakat memiliki opini yang sangat bertentangan satu sama lain ataupun solusi didasari pada nilai yang sangat berbeda."

Selain kejadian tahun 1965, ada banyak isu kontroversial lainnya, misalnya mengenai hukuman mati, dan sebagainya.

Apakah sekolah perlu mengajak siswa belajar mengenai isu-isu yang kontroversial? Ada yang mengatakan perlu dan ada yang mengatakan tidak. Saya termasuk yang mendukung sekolah dalam mengajarkan siswa mengenai isu-isu yang kontroversial, tapi pengajaran ini perlu dilakukan dengan hati-hati. 

Belajar mengenai isu-isu yang kontroversial memungkin siswa untuk:
"Belajar mengekspresikan opini dan belajar terbiasa bahwa ada kemungkinan bahwa opininya ditantang oleh orang lain [yang memiliki perbedaan pandangan terhadap isu yang terkait]. Dengan belajar mengenai isu-isu yang kontroversial siswa  juga belajar untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang baik [meskipun opininya bertentangan dengan pihak lain], dan belajar untuk menerima perbedaan. (Amnesty International, 2011

Ketika mengajarkan mengenai isu-isu kontroversial di sekolah, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh guru, diantaranya mengenai usia siswa (dan perkembangannya) dan perlunya berhati-hati terhadap kekuasaan (power) yang dimiliki guru.   


Ketika merancang kegiatan belajar mengajar mengenai  isu yang kontroversial, guru harus ingat bahwa ada isu-isu tersebut akan berhubungan dengan hal-hal yang belum tentu siap diterima siswa. Isu-isu mengenai kekerasan, apabila tidak disampaikan dengan tepat bisa menimbulkan trauma pada anak. Saya ingat, beberapa tahun yang lalu, saya menonton pertunjukkan papermoon puppet tentang orang-orang yang tiba-tiba hilang setelah kejadian 1965. Menurut saya, pertunjukkan tersebut digambarkan dengan sangat indah dan tidak terlihat sadis, meskipun menyedihkan. Kekerasan di dalam pertunjukkan tersebut tidak disampaikan secara eksplisit. Meskipun begitu, penonton  harus sudah berusia 17 tahun ke atas. Anak-anak di bawah 17 tahun tidak dianggap siap untuk menonton pertunjukkan tersebut. Ketika mengajarkan isu-isu yang kontroversial, guru pun harus memiliki pertimbangan-pertimbangan semacam itu. Apakah kegiatan pembelajaran mengenai isu ini bisa menimbulkan trauma? Apakah ada hal-hal yang belum siap diterima siswa?
Salah satu pertunjukkan Papermoon Puppet Theatre
Sumber : http://www.papermoonpuppet.com/search/label/about
Di Jakarta Post, 1 Oktober 2017, ada berita yang menunjukkan bahwa siswa Sekolah Dasar (SD) belajar mengenai kejadian 1965 melalui drama. Siswa diajak memerankan Di berita tersebut, ada foto di mana siswa memegang pistol dan mengarahkannya kepada orang lain. Menurut guru di sekolah tersebut, drama tersebut bertujuan untuk mengenalkan sejarah pada siswa SD. Katanya:
“We can understand Pak Muhadjir’s suggestion, which may come from his concern that the movie is not suitable for children. We must find another way to teach our students about what happened in 1965. That’s why we asked our students to act in a drama, which portrays the death of Ade Irma Suryani Nasution, who was still five years old that year.” 

Yang berarti :
Meskipun drama tersebut mengenai kematian siswa berusia lima tahun, bukan berarti bahwa drama tersebut cocok untuk siswa SD.  Drama semacam itu bisa dipertontonkan kepada siswa seusia Sekolah Menengah Atas (SMA) tapi  belum layak  dilihat (apalagi diperankan) oleh siswa SD.
"Kami bisa memahami usulan Pak Muhadjir, bahwa  film [G30SPKI] tidak cocok untuk anak-anak. Kita harus mencari cara lain untuk mengajarkan siswa kita tentang apa yang terjadi di tahun 1965. Itulah sebabnya kita meminta siswa kita memerankan drama, yang memerankan kematian Ade Irma Suryani Nasution, yang berusia lima tahun waktu itu."



Guru juga perlu sadar bahwa guru punya kekuasaan tertentu (power) yang tidak dimiliki siswa. Baik dengan sadar atau tidak, kekuasaan ini bisa digunakan untuk mengiring opini siswa bahwa opini terbaik mengenai isu kontroversial tersebut adalah opini guru. Memilih untuk belajar mengenai isu-isu kontroversial berarti bahwa guru harus siap untuk ditantang opininya oleh siswa. Guru hanya perlu memfasilitasi siswa agar bisa menyampaikan argumen dengan lebih baik, misalnya dengan mengajak siswa melengkapi argumentasinya dengan data. 

Sebenarnya, ada begitu banyak hal lain yang perlu jadi pertimbangan ketika guru ingin mengajarkan isu-isu kontroversial di dalam kelas. Tidak semuanya saya bahas dalam tulisan ini karena tidak semuanya saya kuasai. Setidaknya melalui tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman guru untuk belajar lagi mengenai caranya mengajarkan isu-isu kontroversial di dalam kelas. Ada banyak jurnal, artikel, maupun buku tentang caranya mengajarkan isu-isu kontroversial di dalam kelas. Kita hanya perlu sedikit ketekunan untuk mempelajarinya.

Keterangan:
Contoh artikel tentang mengajarkan isu yang kontroversial di dalam kelas:

Oct 4, 2017

Obrolan Dengan Mahasiswa Tentang Memilih Memimpin

Sebagian teman seangkatan waktu kuliah S1

Ketika saya kuliah S1 di Teknik Mesin dulu, mahasiswa angkatan ada 120 orang. Dari keseratus dua puluh mahasiswa tersebut, jelas karakternya beragam. Ada yang rajin banget belajar. Pulang kuliah langsung ke perpustakaan, mereview materi kuliah lalu pulang. Ada yang sibuk berorganisasi sana-sini. Ada yang sibuk main dan malas kuliah. Selain itu, ada teman-teman mahasiswa yang juga mengalami kendala dalam faktor kesehatan, kesulitan ekonomi dan lain sebagainya.

Dari 120 orang mahasiswa tersebut ada yang berhasil tamat kuliah dan ada juga yang tidak. Namun, saya ingat ada satu orang teman yang saya anggap berjasa banget, baik untuk saya pribadi maupun teman-teman seangkatan yang lain. Namanya Ryan Aditya. Dia ketua angkatan saya.

Kenapa saya bilang Ryan cukup berjasa? Sebagai ketua angkatan, Ryan selalu berusaha memastikan bahwa teman-teman seangkatan selalu dalam keadaan yang baik. Dia mendaftar teman-teman mahasiswa yang kesulitan mengikuti perkuliahan, menginisiasi kegiatan belajar bersama sebelum ujian, mengingatkan teman-teman untuk menengok teman yang sakit, dan lain sebagainya. Teman-teman yang malas kuliah didatangi rumahnya, dan banyak pengorbanan lain yang Ryan lakukan demi keberhasilan teman-teman seangkatannya. Tentu saja, Ryan tidak bekerja sendiri, ada banyak teman-teman yang turut membantu Ryan dalam usahanya membuat teman-teman berhasil bersama. Tapi Ryan, menurut saya, adalah yang berani take the lead, alias memilih untuk menjadi pemimpin.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengobrol dengan seorang mahasiswa yang merasa kesulitan mengikuti mata-mata kuliah tertentu. Saya ceritakan bahwa saya dulu bukanlah mahasiswa yang pandai tapi untungnya ada supporting system yang memungkinkan saya berhasil melewati masa-masa kuliah dan lulus. Ada teman-teman, termasuk Ryan yang menginisiasi kegiatan belajar kelompok.

Biasanya kami memakai ruang kelas yang ada di laboratorium dan belajar bersama di sana sampai tengah malam (bahkan pagi). Teman-teman yang punya kemampuan di atas rata-rata membantu teman-teman yang masih bingung terhadapp materi kuliah. Saya rasa saya tidak akan bisa lulus kuliah S1 tanpa ada supporting system  semacam itu.

Saya kemudian bertanya pada mahsiswa, apakah di teman-teman seangkatannya sudah ada budaya belajar kelompok seperti tersebut? Ternyata, ada tapi belum maksimal. Saya sarankan mahasiswa tersebut untuk mulai mengajak ngobrol beberapa teman sekelasnya untuk memulai budaya itu. Anggaplah kalau ada mata kuliah yang dianggap susah, setidaknya dengan belajar bareng, baca materi bareng, latihan bareng, susah-nya bareng-bareng. Kalau jadi terasa lebih mudah, mudahnya juga bareng-bareng. Jadi, kesuksesan jadi milik bersama, bukan hanya untuk diri sendiri.

Saya ceritakan padanya, bagaimana teman saya Ryan berani take the lead, untuk ngurusin teman-teman seangkatannya, menginisiasi berbagai inisiatif untuk teman seangkatan, bahkan setelah lulus pun masih perhatian pada teman-teman yang membutuhkan.

"Bagaimana yah dia bagi waktunya?" tanya mahasiswa saya.

Jawab saya, "Saya tidak tahu. Tapi dengan memilih untuk memimpin, meskipun bukan secara formal di suatu organisasi, saya yakin Ryan belajar banyak hal yang tidak didapatkan teman-teman yang lain. Mulai dari kemampuan mengatur  waktu,  keterampilan berkomunikasi, berjejarin, memimpin, dan lainnya. Itu pasti bermanfaat baginya di kemudian hari, termasuk dalam karir. Sampai sekarang, saya senantiasa mendoakan agar Ryan dan keluarga diberkahi Allah karena memilih untuk senantiasa membantu orang lain."

Setelah ngobrol, raut wajah mahasiswa saya terlihat sedikit lebih cerah. Tampaknya dia mengerti bahwa meskipun ada mata-mata kuliah yang terasa berat, tapi dengan sedikit perubahan, mungkin akan ada titik cerah. Sepertinya dia mau mencoba untuk take the lead. seperti halnya yang dilakukan Ryan. Mudah-mudahan yah.

Sep 29, 2017

Kerja Sama Tim untuk Persiapan Workshop Matematika untuk Guru SD (IGI)

Sejak lengser dari kepengurusan Ikatan Guru Indonesia (IGI) sejak Kongres IGI II, 10 - 11 Maret 2016 di Makassar, saya sudah lama sekali tidak ikut kegiatan IGI. Rasanya kangen juga. Jadi, waktu Ibu Yully mengontak saya April 2017 lalu, menawarkan untuk membuat workshop matematika untuk teman-teman IGI DKI, tentu saja saya sambut dengan baik. Workshop-nya dikhususkan untuk guru Sekolah Dasar (SD).

Draft outline workshop pun segera saya rancang dan kirimkan ke Ibu Yully. Draft  tersebut ditanggapi oleh Ibu Tia (IGI Jakarta Timur). Ibu Tialah yang mengurus peserta, tempat, dan berbagai hal teknis lainnya sehingga kegiatan bisa terlaksana pada Sabtu-Minggu, 9 - 10 September 2017. 

Melalui tulisan kali ini, saya ingin menceritakan proses mendesain workshop ini. Menurut saya, proses mendesain workshop ini sangat menyenangkan, karena saya dibantu oleh tim yang keren banget. Jadi, begini ceritanya. 

Workshop diselenggarakan selama dua hari, dengan tujuan agar peserta bisa mencapai tujuan-tujuan di bawah ini :

  • Memiliki gambaran umum mengenai keterampilan-keterampilan dasar yang perlu siswa kembangkan ketika belajar matematika (keterampilan memecahkan masalah, penalaran dan pembuktian matematis, mengkomunikasikan gagasan matematika, kemampuan mengkaitkan gagasan matematis dengan berbagai gagasan lainnya, dan menggunakan representasi dalam pembelajaran matematika)
  • Menganalisis beberapa contoh kegiatan belajar-mengajar matematika
  • Berbagi praktek baik mengenai caranya merancang kegiatan matematika
  • Berlatih merancang kegiatan dan mempraktekkan kegiatanbelajar-mengajar matematika



Outline memang saya desain sendiri, dengan rincian sebagai berikut :

Hari 1 
 Sesi 1: Prinsip-prinsip belajar-mengajar matematika (mengacu pada NCTM)
Sesi 2: Contoh-contoh kegiatan belajar-mengajar matematika di level SD : fasilitator mencontohkan bagaimana menjalankan kelas.
  • kegiatan belajar-mengajar mengenai bilangan (2 x 30 menit) 
  • kegiatan belajar-mengajar mengenai geometri (2 x 30 menit)
Sesi 3: Refleksi 
Hari 2
Sesi 1: Sharing session: Guru SD berbagi pengalamannya mendesain kegiatan belajar-mengajar, proses persiapannya,  prakteknya, bagaimana mengasses kemampuan siswa, dan umpan balik dari kegiatannya (baik dari siswa maupun hasil refleksi sendiri).
Sesi 2: Berlatih merancang kegiatan belajar-mengajar matematika
Sesi 3:  Praktek mengajar dan refleksi
Sebenarnya, bisa saja saya mengisi workshop tersebut sendiri. Tetapi saya tidak ingin seperti itu. Alasannya ada beberapa. Pertama, ada beberapa mahasiswa saya yang sudah lulus dan sudah menjadi guru. Saya yakin banyak yang kemampuan mengajarnya jauh lebih baik dari saya. Mereka masih muda, sangat kreatif dan senang berbagi. Saya yakin mereka mau terlibat dalam menyiapkan dan membawakan workshop ini. 

Kedua, saya ingat saya mendapatkan kesempatan memfasilitasi berbagi workshop, bukan karena saya paling jago. Namun, beberapa teman-teman fasilitator yang lebih senior, khsususnya yang saya temui di IGI, mengajak saya untuk berbagi. Dicemplungin gitu. Provokator utamanya tentu saja Pak Satria Dharma, pendiri IGI. Tapi saya juga ingat, pernah belajar menjadi fasilitator karena dapat kesempatan bekerja sama dengan beberapa  fasilitator lainnya, diantaranya Pak Agung Wibowo, Ibu Itje Chodidjah, Ibu Aulia Wijiasih, Pak Iwan Pranoto, Ibu Henny Supolo, dan banyak lainnya.

Intinya, saya dapat kesempatan yang memungkinkan saya belajar untuk mengasah kemampuan menyelenggarakan dan memfasilitasi berbagai kegiatan workshop. It is just a matter of having the opportunity to learn. 

Jadi, kali ini saya ingin memberikan kesempatan itu kepada lebih banyak orang. Kebetulan, dimulai dengan mengajak beberapa mahasiswa saya yang tertarik untuk membantu kegiatan ini. Untuk workshop kali ini saya dibantu oleh Woro, Sofi, Jenni, dan Susi (yang kini menjadi guru di sekolah baik SD maupun SMP), dan Deshinta (yang sudah jadi rekan kerja saya di Fakultas Pendidikan Universitas Sampoerna). Ternyata, mengajak mereka itu anugrah. Kerja mereka bagus sekali (tapi ini, kapan-kapan lagi ceritanya). 

Jadi, saya mengirimkan email kepada mereka untuk mengajak bekerja sama. Semua mau terlibat. Kita pun janjian bertemu. Pertemuan pertama dilaksanakan sekitar sebulan sebelum kegiatan workshop. Di pertemuan itu, kami membahas outline workshop. Saya pun menyampaikan bahwa saya terbuka apabila ada perubahan. Namun, tampaknya semua setuju dengan outline tersebut

Kami, lalu berbagi peran. Saya bertanggung jawab terhadap sesi 1 hari 1 dan bagian-bagian refleksi. Woro dan Susi bertanggung jawab terhadap kegiatan belajar-mengajar mengenai bilangan, Deshinta dan Sofi bertanggung jawab mengenai sesi  kegiatan belajar-mengajar mengenai geometri, dan Jenni bertanggung jawab tentang kegiata sharing session. Setelahnya semuanya akan bersama-sama bekerja sama dengan guru untuk merancang kegiatan belajar-mengajar matematika yang akan dipraktekkan di sesi terakhir.

Setelah rapat, kami sepakat untuk bertanggung jawab untuk mencari ide dan membuat persiapan untuk sesi kami masing-masing. Artinya, kami semua bertanggung jawab untuk belajar, membuat presentasi, menyiapkan bahan untuk kegiatan (alat peraga, lembar kerja), dan juga memikirkan berbagai kegiatan ice breaking yang akan digunakan sebelum mulai belajar. 

Seminggu sebelum hari-H, kami bertemu lagi. Kali ini, kami berbagi mengenai gagasan untuk masing-masing sesi. Kami berbagi mengenai apa saja yang sudah dipersiapkan. Misalnya, kegiatan tentang bilangan kan banyak sekali. Jadi, penanggung jawab sesi menceritakan mereka mau fokus untuk topik apa. Tentang bilangan, ternyata kegiatan yang dipilih adalah tentang Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Ternyata tim sudah menyiapkan permainan untuk belajar tentang KPK yang melibatkan tepuk tangan, loncat dan sebagainya. Meskipun, kami rapat di sebuah kafe di mall, kami mempraktekkan permainan ini dengan riang gembira. Tampaknya pengunjung lain  heran lihat kelakuan kami yang seperti anak SD yang tepuk-tepuk tangan dan tertawa-tawa sendiri.

Masing-masing penanggung jawab sesi juga menceritakan PPT yang sudah disiapkan, permainan yang akan dibuat, dan berbagai hal lainnya. Kami pun saling memberikan masukan. Seluruh anggota tim memang bertanggung jawab. Di pertemuan itu 70% materi sudah disiapkan. Artinya, yang diperlukan dalam minggu ke depan adalah finisihing touch


Rapat persiapan kedua: penanggung jawab sesi bercerita mengenai persiapan yang sudah dilakukan

Kami sepakat untuk rapat sekali lagi sehari sebelum workshop diselenggarakan. Hal tersebut untuk memastikan tidak ada yang terlupa.  Juga, untuk memastikan bahwa semua benar-benar sudah paham flow workshopnya.  Namun, workshop diselenggarakan hari Sabtu sehingga kami harus bertemu hari Jumat. Itu hari kerja. Semua anggota tim masih aktif mengajar dan pulang sore. Lokasi tempat tinggal pun berjauhan.

Akhirnya, kami sepakat untuk rapat online menggunakan google hang out. Jumat malam, pk 21.00 - 22.00 kami rapat dari kamar masing-masing untuk membahas persiapan akhir untuk workshop keesokan harinya. Kami saling mengingatkan mengenai apa yang harus dibawa, saling bertanya apabila ada hal yang dirasa kurang jelas, dan saling memberikan masukan dan gagasan. Selain kegiatan workshop di hari -H yang paling saya nikmati adalah proses persiapannya. Seperti inilah ceritanya.  Alhamdulillah kegiatan workshop berjalan dengan sangat baik.  Tapi  kisah workshop-nya saya cerita lain kali saja yah? Itu panjang lagi ceritanya. :)