Oct 4, 2017

Obrolan Dengan Mahasiswa Tentang Memilih Memimpin

Sebagian teman seangkatan waktu kuliah S1

Ketika saya kuliah S1 di Teknik Mesin dulu, mahasiswa angkatan ada 120 orang. Dari keseratus dua puluh mahasiswa tersebut, jelas karakternya beragam. Ada yang rajin banget belajar. Pulang kuliah langsung ke perpustakaan, mereview materi kuliah lalu pulang. Ada yang sibuk berorganisasi sana-sini. Ada yang sibuk main dan malas kuliah. Selain itu, ada teman-teman mahasiswa yang juga mengalami kendala dalam faktor kesehatan, kesulitan ekonomi dan lain sebagainya.

Dari 120 orang mahasiswa tersebut ada yang berhasil tamat kuliah dan ada juga yang tidak. Namun, saya ingat ada satu orang teman yang saya anggap berjasa banget, baik untuk saya pribadi maupun teman-teman seangkatan yang lain. Namanya Ryan Aditya. Dia ketua angkatan saya.

Kenapa saya bilang Ryan cukup berjasa? Sebagai ketua angkatan, Ryan selalu berusaha memastikan bahwa teman-teman seangkatan selalu dalam keadaan yang baik. Dia mendaftar teman-teman mahasiswa yang kesulitan mengikuti perkuliahan, menginisiasi kegiatan belajar bersama sebelum ujian, mengingatkan teman-teman untuk menengok teman yang sakit, dan lain sebagainya. Teman-teman yang malas kuliah didatangi rumahnya, dan banyak pengorbanan lain yang Ryan lakukan demi keberhasilan teman-teman seangkatannya. Tentu saja, Ryan tidak bekerja sendiri, ada banyak teman-teman yang turut membantu Ryan dalam usahanya membuat teman-teman berhasil bersama. Tapi Ryan, menurut saya, adalah yang berani take the lead, alias memilih untuk menjadi pemimpin.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengobrol dengan seorang mahasiswa yang merasa kesulitan mengikuti mata-mata kuliah tertentu. Saya ceritakan bahwa saya dulu bukanlah mahasiswa yang pandai tapi untungnya ada supporting system yang memungkinkan saya berhasil melewati masa-masa kuliah dan lulus. Ada teman-teman, termasuk Ryan yang menginisiasi kegiatan belajar kelompok.

Biasanya kami memakai ruang kelas yang ada di laboratorium dan belajar bersama di sana sampai tengah malam (bahkan pagi). Teman-teman yang punya kemampuan di atas rata-rata membantu teman-teman yang masih bingung terhadapp materi kuliah. Saya rasa saya tidak akan bisa lulus kuliah S1 tanpa ada supporting system  semacam itu.

Saya kemudian bertanya pada mahsiswa, apakah di teman-teman seangkatannya sudah ada budaya belajar kelompok seperti tersebut? Ternyata, ada tapi belum maksimal. Saya sarankan mahasiswa tersebut untuk mulai mengajak ngobrol beberapa teman sekelasnya untuk memulai budaya itu. Anggaplah kalau ada mata kuliah yang dianggap susah, setidaknya dengan belajar bareng, baca materi bareng, latihan bareng, susah-nya bareng-bareng. Kalau jadi terasa lebih mudah, mudahnya juga bareng-bareng. Jadi, kesuksesan jadi milik bersama, bukan hanya untuk diri sendiri.

Saya ceritakan padanya, bagaimana teman saya Ryan berani take the lead, untuk ngurusin teman-teman seangkatannya, menginisiasi berbagai inisiatif untuk teman seangkatan, bahkan setelah lulus pun masih perhatian pada teman-teman yang membutuhkan.

"Bagaimana yah dia bagi waktunya?" tanya mahasiswa saya.

Jawab saya, "Saya tidak tahu. Tapi dengan memilih untuk memimpin, meskipun bukan secara formal di suatu organisasi, saya yakin Ryan belajar banyak hal yang tidak didapatkan teman-teman yang lain. Mulai dari kemampuan mengatur  waktu,  keterampilan berkomunikasi, berjejarin, memimpin, dan lainnya. Itu pasti bermanfaat baginya di kemudian hari, termasuk dalam karir. Sampai sekarang, saya senantiasa mendoakan agar Ryan dan keluarga diberkahi Allah karena memilih untuk senantiasa membantu orang lain."

Setelah ngobrol, raut wajah mahasiswa saya terlihat sedikit lebih cerah. Tampaknya dia mengerti bahwa meskipun ada mata-mata kuliah yang terasa berat, tapi dengan sedikit perubahan, mungkin akan ada titik cerah. Sepertinya dia mau mencoba untuk take the lead. seperti halnya yang dilakukan Ryan. Mudah-mudahan yah.

No comments: