Oct 30, 2017

Refleksi ESN : "Examining Digital Literacies from the Ground Up: Lessons for Language Teaching" oleh Dr. Ibrar Bhatt.

Education Sharing Network (ESN) adalah sebuah kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan, Universitas Sampoerna. Diadakan dua kali per semester. Tema kegiatan ESN hari ini adalah "Examining Digital Literacies from the Ground Up: Lessons for Language Teaching". Dr. Ibrar Bhatt dari Queen's University, Belfast, menjadi pembicara untuk tema ini.

Meskipun tidak punya dasar mengenai pengajaran bahasa (language teaching),  ESN kali ini tetap saya anggap sangat menarik.

Dr. Bhatt memulai presentasi dengan menceritakan latar belakangnya. Kini, dia memang seorang akademisi yang bekerja di universitas, tetapi sebelumnya ia adalah guru bahasa. Pengalamannya mengajar, membuatnya berinteraksi dengan siswa-siswa dari berbagai latar belakang. Beberapa tidak piawai dalam menulis dan membaca, khususnya dalam konteks akademis. Beberapa juga tidak pandai, bahkan tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka adalah siswa-siswa yang kesulitan di kelas dan mereka sering kali dilabeli illiterate, alias tidak cakap menulis dan membaca.

Namun, dari hasil observasi Dr. Bhatt, dia menemukan bahwa siswa-siswinya sangat aktif di internet. Mereka bisa melakukan jual beli melalui E-Bay, bisa mengisi formulir aplikasi visa (yang rumit), aktif mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan dalam diskusi online, mencari dan mencoba memahami berbagai informasi untuk belajar hal baru di dunia maya.  Menurutnya, beberapa hal yang dilakukan siswanya  termasuk dalam complex literacy activities.

Muncullah pertanyaan dalam kepala Dr. Bhatt, "Apakah siswa-siswanya benar-benar illiterate?"

Dr. Bhatt memahami literasi sebagai bentuk praktik sosial (social practices). Seseorang bisa sangat literat di satu konteks tetapi tidak literat di konteks lain. Sebagai analoginya, Dr. Bhatt mencontohkan bahwa dia sudah memperoleh PhD di bidang bahasa (Inggris). Tentu saja, asumsinya adalah bahwa keterampilannya dalam membaca seharusnya baik. Ketika pendingin ruangan di rumahnya rusak, dia mau mencoba memperbaikinya sendiri. Referensinya adalah buku manual. Dr. Bhatt membaca buku manual tersebut selama setengah jam tapi tetap saja tidak bisa memperbaiki mesin pendingin ruangan itu. Lalu, dia memanggil seorang teknisi. Teknisi ini membaca buku manual sebentar saja, lalu bisa membetulkan mesin pendingin dalam waktu beberapa menit.

Baik Dr. Bhatt maupun teknisi sama-sama bisa membaca. Namun ada konteks di mana Dr. Bhatt lebih literat daripada teknisi tersebut, yakni dalam konteks akademik (sesuai bidangnya). Di sisi lain, ada konteks di mana teknisi tersebut lebih literat daripada Dr. Bhatt, yakni yang terkait profesinya, segala hal yang berhubungan dengan permesinan. Setiap komunitas punya “bahasanya sendiri”, berinteraksi dengan jenis teknologi tersendiri. Istilah Dr. Bhatt, "I have access to diferent kinds of literacies, he has access to different kinds of literacies." 

Cerita Dr. Bhatt ini mengingatkan saya pada cerita Ong Hok Ham dalam  buku "Guru dan Secangkir Kopi" karya Mas Andi Achdian. Saya lupa detailnya. Akan tetapi, ada bagian di dalam buku itu yang menceritakan Ong Hok Ham menganggap bahwa rakyat yang dianggap orang biasa (bukan dari kalangan yang dianggap terpelajar) punya kecerdasannya sendiri. Mereka punya bahasa dan logika tersendiri untuk memahami dunia.

Nah, menurut Dr. Bhatt, sebagai seorang “guru”, kita perlu melakukan penelitian agar bisa lebih memahami siswa-siswa kita. Guru bahasa misalnya, juga perlu mengamati secara lebih mendalam literasi siswa. Misalnya, dalam konteks digital. Sebelumnya, Dr. Bhatt juga mengingatkan bahwa konsep mengenai digital literacyakan terus berubah dari zaman ke zaman, sesuai dengan perkembangan digital. Misalnya, di zaman dulu, anak yang punya akses terhadap game (Nintendo, Game Boy, dll) dianggap generasi digital, lalu kemudian mereka yang punya akses terhadap internet, yang dianggap generasi digital. Di masa depan, yang disebut generasi digital adalah mereka yang terakses dengan  the internet of things, di berbagai hal di sekitar, kursi, meja, dan lain-lain terakses ke internet. Ketika memandang literacy as a social practice, kita jadi bisa paham bahwa tidak ada definisi yang saklek mengenai literasi tapi literasi berkembang di dalam praktik. Praktik ini dikembangkan oleh manusia.

Sebagai guru, Dr. Bhatt menyarankan kita untuk mempelajari digital literacy dari akar rumput, bukan berdasarkan apa yang didiktekan oleh pembuat teknologi kepada kita. Ada berbagai metode untuk melakukan ini. Misalnya, dengan mempelajari sejarah digital siswa-siswa kita. Mewawancarai mereka, misalnya untuk mengetahui kapan mereka pertama kalinya menggunakan mouse, membuat email, membuat profil di media sosial, dan belajar berbagai skill yang mereka miliki sekarang. Siswa-siswi kita bisa saja punya akses yang sama terhadap teknologi, misalnya sama-sama memiliki akses ke telepon pintar, tetapi hal tersebut tidak berarti mereka memiliki pengalaman yang sama dalam menggunakan literasi digital.

Salah satu hal yang menarik adalah ketika Dr. Bhatt mengatakan dia lebih suka fokus mempelajari jenis literasi siswa, bukan sekadar level literasi siswa. Dr. Bhatt mengatakan, sebagai seorang guru, tentu saja kita diharapkan untuk mengukur level literasi siswa. Hal ini bisa dipahami. Namun, ketika kita bisa mencoba memahami jenis literasi siswa, kita memperoleh informasi yang bisa memperkaya praktik kita dalam merancang kegiatan belajar-mengajar. Kita bisa mempelajari sejarah dan kebiasaan siswa kita dalam menggunakan media digital, jaringan siswa kita, dan tempat-tempat yang terkoneksi dengan siswa kita, jenis-jenis aplikasi, platform, dan teknologi yang digunakan siswa kita, dan lain-lain.

Pesan utama Dr. Bhatt, agar kita, para guru, berusaha mengumpulkan data dan melakukan riset terkait praktik literasi siswa kita, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap data tersebut, dan gunakan apa yang dipelajari untuk memperbaiki praktik belajar dan mengajar.

No comments: